.jpg)
Serangan jantung masih dianggap penyakit kaum laki-laki, padahal perempuan juga bisa terkena. Tapi banyak perempuan yang tidak menyadari sehingga jarang terdeteksi. Kenali gejala serangan jantung pada perempuan.
Penelitian yang dilakukan oleh National Institutes of Health (NIH) menunjukkan bahwa perempuan sering mengalami gejala satu bulan atau lebih sebelum akhirnya mendapatkan serangan jantung.
Diantara 515 perempuan yang diteliti, sebanyak 95 persen mengatakan bahwa mereka baru mengetahui gejala yang berbeda setelah satu bulan sebelum terkena serangan jantung atau Acute Myocardial Infarction (AMI).
"Sayangnya banyak perempuan yang tidak tahu bahwa gejala yang dialaminya adalah tanda serangan jantung, karena gejala yang timbul bisa secara signifikan berbeda dengan kaum laki-laki," ujar C Noel Bairey Merz, M.D ketua American College of Cardiology's Prevention and Cardiovascular Diseases Committee, seperti dikutip dari Medicinenet, Jumat (2/4/2010).
Berdasarkan penelitian didapatkan sekitar kurang dari 30 persen perempuan mengalami nyeri dada atau rasa ketidaknyamanan sebelum serangan jantung, dan sebanyak 43 persen tidak mengalami nyeri dada selama fase serangan jantung. Namun kebanyakan dokter tetap mempertimbangkan nyeri dada sebagai gejala serangan jantung yang penting bagi laki-laki dan perempuan.
"Semakin jelas bahwa gejala yang dialami oleh perempuan tidak bisa ditebak seperti laki-laki. Hal ini menunjukkan harus adanya kesadaran baik dari pihak perempuan maupun dokternya mengenai gejala yang dapat mengarah ke serangan jantung," ujar Patricia A Grady, PhD, RN, direktur dari NINR (National Institute of Nursing Research).
Patricia menambahkan hal ini penting agar tidak melewatkan kesempatan sedini mungkin untuk mencegah atau mengurangi AMI, karena hingga kini AMI masih menjadi penyebab pertama kematian pada laki-laki maupun perempuan.
Sebelum serangan jantung, ada beberapa gejala yang biasanya dialami oleh perempuan yaitu:
1. Kelelahan yang tidak biasa (dialami sekitar 70 persen perempuan)
2. Gangguan tidur (dialami sekitar 48 persen)
3. Sesak napas (dialami sekitar 42 persen)
4. Gangguan pencernaan (dialami sekitar 39 persen)
5. Rasa ketakutan (dialami sekitar 35 persen).
Saat serangan jantung terjadi ada beberapa gejala yang biasa menyertai yaitu:
1. Sesak napas (dialami sekitar 58 persen)
2. Lemah (dialami sekitar 55 persen)
3. Kelelahan yang tidak biasa (dialami sekitar 43 persen)
4. Keringat dingin (dialami sekitar 39 persen)
5. Pusing (dialami sekitar 39 persen).
Perempuan yang mengalami kematian akibat serangan jantung karena tidak menyadari gejala yagng timbul. Untuk itu kenali gejala serangan jantung yang terjadi pada perempuan karena penyakit ini bisa menyerang siapa saja tanpa melihat jenis kelaminnya.
Selengkapnya...
Friday, April 2, 2010
Gejala Serangan Jantung Pada Perempuan
Thursday, April 1, 2010
Daya Tahan Oke dengan Santapan Organik

Belakangan ini, mengonsumsi makanan sehat semakin menjadi tren, terutama di kota-kota besar. Salah satunya mengonsumsi makanan organik. Banyak orang menilai makanan ini sehat karena proses penanaman sampai panen dilakukan secara natural, alias tidak menggunakan bahan kimia. Karena itu pula, makanan ini aman untuk kita konsumsi.
Seiring tren ini, kini, makanan organik semakin mudah dijumpai. Banyak pusat perbelanjaan dan gerai-gerai tertentu memasarkan makanan bebas pestisida, pupuk kimia, hormon pertumbuhan, dan benih transgenik ini. Karena konsumsinya terus meningkat, kini jenis makanannya juga semakin beragam. Selain sayur dan buah-buahan, belakangan juga muncul ayam, telur, dan susu organik.
Makanan organik memang memiliki banyak khasiat bagi kesehatan tubuh. Cukup banyak riset yang menyimpulkan bahwa buah-buahan, sayur mayur, dan kacang-kacangan yang ditanam secara organik banyak mengandung zat nutrisi, termasuk vitamin C, zat besi, magnesium, dan fosfor. Sebaliknya, makanan ini sangat sedikit mengandung nitrat dan endapan pestisida dibandingkan yang non-organik.
"Karena itu, mengonsumsi makanan organik secara teratur membuat badan tidak gampang sakit," ujar Susianto, Ketua Operasional Indonesia Vegetarian Society (IVS).
Daya tahan tubuh menjadi lebih kuat karena makanan organik mengandung antioksidan lebih banyak dibandingkan bahan non-organik. Manfaat antioksidan bagi tubuh cukup banyak. Selain mampu membersihkan darah, juga bisa membantu mencegah berbagai penyakit, seperti kanker, diabetes, kardiovaskuler, dan penyakit degeneratif atau keturunan lainnya.
Makanan organik mengandung antioksidan tinggi karena tidak menggunakan bahan kimia. Pemupukan, misalnya, hanya menggunakan pupuk kompos. Dengan begitu, makanan lebih banyak mengandung nutrisi ketimbang kandungan zat yang membahayakan kesehatan.
Sebaliknya. makanan non-organik bisa berdampak buruk bagi kesehatan. Soalnya, makanan ini mengandung pupuk kimia seperti pestisida, herbisida, hingga fungisida. Nah. zat-zat kimia itu biasanya terus menempel pada sayur dan buah-buahan tersebut.
"Apalagi, buah yang dikirim dari luar pulau atau hasil impor tentu butuh zat pengawet tambahan agar tidak cepat membusuk, sehingga kandungan zat kimianya akan lebih besar lagi," ujar Trini Sudarti, ahli gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM-UI).
Dampak negatif mengonsumsi makanan non-organik memang tidak akan langsung terlihat. Biasanya, dampaknya baru akan terlihat dalam jangka waktu panjang. Dalam jangka waktu itu, akan terjadi penumpukan zat kimia yang bersifat racun (toxic) di dalam tubuh. Akibatnya. hati atau liver harus bekerja keras menetralkan racun tersebut. Hanya saja, hati tidak akan selamanya bisa menetralkan racun dalam tubuh.
Kalau kita setiap hari mengomsumsi makanan seperti ini, tentu, dampaknya akan lebih cepat terasa. Soalnya, setiap hari ada bahan kimia yang masuk ke dalam tubuh. Akibatnya, ada racun dalam tubuh yang tidak bisa dinetralkan dan berubah menjadi lemak.
"Semakin banyak racun yang masuk, lemak akan semakin menumpuk," kata Adi Sasongko, Direktur Pelayanan Kesehatan Yayasan Kusuma Bangsa.
Lemak jahat di dalam tubuh ini bisa menjadi sumber penyakit. Beberapa di antaranya adalah obesitas, jantung, penyakit kandung empedu, stroke, hingga diabetes melitus. Makanya, demi mengihindari penumpukan lemat jahat ini, banyak kalangan medis menyarankan orang yang tengah menjalankan diet untuk mengonsumsi makanan organik.
Selain ikut membantu kinerja hati, makanan ini juga kandungan serat yang tinggi. Dengan begitu, bisa membantu melarutkan lemak. "Lemak akan dikeluarkan bersama sisa-sisa pencernaan," kata Trini.
Cegah stroke dan jantung
Manfaat lain makanan organik adalah kandungan flavonoid yang cukup tinggi. Asal Anda tahu, flavonoid adalah zat yang mampu menurunkan potensi stroke dan penyakit jantung. Kandungan flavonoid tanaman organik lebih tinggi karena makanan organik tidak dipupuk dengan bahan kimia.
Dengan begitu, tanaman harus bekerja lebih keras untuk mendapatkan nitrogen di dalam tanah. Saat itulah tanaman mampu menghasilkan flavonoid yang menyehatkan jantung kita.
Lain halnya dengan tanaman yang menggunakan pupuk kimia. Tanaman ini tidak perlu bekerja lebih keras untuk mendapatkan nitrogen. Soalnya, pupuk kimia sintetis sudah mengandung logam berat, seperti timbal dan merkuri.
Bagi ibu hamil zat-zat tersebut sangat merugikan, karena bisa mempengaruhi perkembangan otak pada janin. "Karena itu, ibu hamil sebaiknya mengonsumsi makanan organik," saran Trini. (Adi Wikanto)
Selengkapnya...